Budaya sintuvu lahir dari masyarakat Kaili

Budaya sintuvu lahir dari masyarakat Kaili

Budaya sintuvu lahir dari masyarakat Kaili ketika menghadapi persoalan-persoalan yang dirasa berat sehingga memerlukan kerja sama atau gotong royong. Prinsip gotong royong dalam masyarakat Kaili dipahami sebagai aktivitas masyarakat yang didasarkan pada nilai-nilai kekeluargaan dan musyawarah (libu) untuk menyelesaikan masalah publik secara bersama-sama demi kepentingan bersama. Proses sintuvu dalam masyarakat Kaili didahului dengan musyawarah (libu) untuk mendapatkan kemufakatan, dari hasil kemufakatan tersebut kemudian dikerjakan dan dipertanggungjawabkan secara bersama-sama.  

Oleh karenanya, sintuvu identik dengan konsep gotong royong sebagai kebudayaan khas Indonesia. Soekarno dalam Safroedin Bahar menegaskan bahwa gotong royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan nilai yang sebenarnya dari budaya sintuvu dalam masyarakat Kaili. 

Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai kekeluargaan dan persatuan pada prinsip nosarara nosabatutu; nilai keterbukaan dan kekeluargaan dalam ada nosibolai,; nilai musyawarah mufakat dan tanggung jawab dalam libu ntodea; serta nilai kekeluargaan, musyawarah, kerja sama, dan harmoni dalam tonda talusi. Identifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kebersamaan yang lahir dan berkembang dalam masyarakat 

Kaili tersebut, dideskripsikan sebagai berikut: 

1. Nosarara nosabatutu (prinsip kekeluargaan dan persatuan) 

Masyarakat Kaili memiliki kearifan budaya lokal tentang kebersamaan diantaranya ajaran nosarara nosabatutu yang mengandung nilai-nilai kekeluargaan dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nosarara nosabatutu artinya persaudaraan dalam wadah tali kasih (Sumber: Hambali). Konsep tentang kebersamaan dalam masyarakat Kaili pada awalnya dimaknai sebagai hubungan kekeluargaan berdasarkan ikatan satu darah (nosarara), sebuah pemahaman bahwa mereka bersaudara karena memiliki ikatan secara geneologis. Hubungan kekeluargaan tersebut disatukan dalam satu wadah yang disebut batutu sehingga melahirkan konsep nosabatutu. 

Prinsip nosarara nosabatutu disinyalir lahir sejak lahirnya masyarakat Kaili yang dikenal dengan sebutan To Kaili. Kelompok sosial dalam masyarakat Kaili pada masa kepemimpinan tradisional diperintah oleh seorang kepala suku disebut Tomalanggai. Pada masa Tomalanggai orang Kaili sudah mengenal prinip-prinsip kebersamaan dalam ajaran nosarara nosabatutu. Ajaran nosarara nosabatutu merupakan prinsip tentang kekeluargaan atau persaudaran dan persatuan masyarakat Kaili yang didasarkan atas hubungan darah.

2. Ada nosibolai (prinsip keterbukaan) 

Masyarakat Kaili adalah masyarakat egaliter yang menerima secara terbuka kehadiran kelompok-kelompok etnik lainnya di Tanah Kaili. Orang Kaili (To Kaili) sangat terbuka terhadap etnik lainnya sejak zaman dahulu, yaitu pada masa kerajaan. Salah satu bentuk keterbukaan masyarakat Kaili ditunjukkan dalam tradisi kawin mawin antaretnik disebut adanosibolai. Tradisi kawin mawin antar etnik tersebut awalnya dilakukan oleh raja dan bangsawan di lingkungan kerajaan kemudian diikuti oleh kalangan masyarakat biasa. Tradisi ada nosibolai pada awalnya merupakan usaha bangsawan di masa lalu untuk menyebarkan keturunannya ke daerah lain dengan cara perkawinan (Melalatoa 1995). Tradisi ini masih berlaku sampai dengan sekarang, baik di lingkungan masyarakat keturunan raja dan bangsawan (magau dan madika) maupun masyarakat biasa (ntodea). Sejak dahulu, tidak ada larangan bagi masyarakat Kaili dalam melangsungkan pernikahan dengan etnik mana pun. Melalui ada nosibolai masyarakat Kaili ingin menunjukkan sifat keterbukaannya dalam menjalin hubungan kekeluargaan dan persaudaraan. Keterbukaaan etnik Kaili melalui ada nosibolai tersebut merupakan salah satu kearifan masyarakat Kaili dalam membangun kebersamaan dengan etnik lainya. 

 3. Libu ntodea (prinsip musyawarah mufakat) 

Musyawarah merupakan salah satu bentuk kearifan masyarakat Kaili dalam menyelesaikan suatu permasalahan secara kekeluargaan untuk mencapai kemufakatan. Musyawarah mufakat lazimnya dilaksanakan oleh orang banyak sehingga disebut libu ntodea. Orang Kaili dikenal memiliki prinsip yang sangat kuat dalam mempertahankan kebenaran, tetapi sekaligus mempunyai sikap mudah berdamai dengan orang lain. Sikap mudah berdamai artinya bahwa orang Kaili menempatkan musyawarah mufakat sebagai cara dalam mengatasi persoalan. Sebab, jika sudah terjadi kemufakatan maka orang Kaili akan menerima dan bertanggung jawab atas hasil kemufakatan tersebut.  

Istilah musyawarah mufakat sesuai penggunaannya dalam masyarakat Kaili disebut dalam beberapa pengertian, yaitu libu (musyawarah), molibu (mengundang orang untuk bermusyawah), dan polibu (tempat bermusyawarah). 

4. Tonda talusi (prinsip harmoni) 

Talusi artinya tiga penyangga (Sumber: Tjatjo Tuan Sjaichu). Tonda talusi merupakan kearifan lokal masyarakat Kaili dalam mewujudkan harmonisasi sebagaisuatu upaya untuk meminimalisir terjadinya konflik. Tonda talusi dalam konteks kebersamaan masyarakat Kaili merupakan sistem nilai yang dibangun atas dasar konsep sintuvu untuk mewujudkan keharmonisan dalam masyarakat. Nilai-nilai yang mendasari tonda talusi adalah kekeluargaan, musyawarah, kerja sama, dan harmoni.  

Tonda talusi adalah filosofi masyarakat Kaili yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan. Tonda talusi artinya tiga penyangga (tungku) kehidupan masyarakat Kaili. Prinsip-prinsip kebersamaan dalam falsafah Tonda Talusi, meliputi 3 pilar kehidupan masyarakat Kaili yang dilandasi nilai-nilai kebaikan, yaitu: 1) Matuvu Mosipeili artinya baku lihat, 2) Matuvu Mosiepe artinya baku dengar, 3) Matuvu Mosimpotove artinya baku sayang. Tonda Talusi menggambarkan tiga tungku penyangga kehidupan dalam masyarakat Kaili 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pompaura Posunu Rumpu

Pompaura Posunu Rumpu

Pompaura Posunu Rumpu


Pompaura Posunu Rumpu adalah salah satu ritual adat yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh Suku kaili. Pompaura dalam Bahasa Indonesia artinya mengembalikan. Sedangkan Posunu artinya menggeser, menyingkirkan, atau membersihkan. Dan Rumpu artinya kotoran. Pompaura Posunu Rumpu bisa diartikan menyingkirkan atau membersihkan kotoran dan mengembalikan kepada pemilik-Nya.

“Tujuannya dilakukan ritual adat ini untuk membersihkan kampung dari hal-hal buruk, tolak bala, tolak sial dan yang lainnya. ritual adat tersebut, seluruh warga kampung memohon kepada Tuhan yang mahakuasa agar dihindarkan dan dilindungi dari berbagai bencana dan bahaya.


Sekilas tentang Suku Kaili. Tokaili...

Suku Kaili adalah suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar dari Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Kabupaten DonggalaKabupaten Sigi, dan Kota Palu, di seluruh daerah di lembah antara Gunung GawaliseGunung Nokilalaki, Kulawi, dan Gunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi Kabupaten Parigi-MoutongKabupaten Tojo Una-Una dan Kabupaten Poso. Masyarakat suku Kaili mendiami kampung/desa di Teluk Tomini yaitu Tinombo,Moutong,Parigi, Sausu, Ampana, Tojo dan Una Una, sedang di Kabupaten Poso mereka mendiami daerah Mapane, Uekuli dan pesisir Pantai Poso.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Alat Musik Suku Dampelas

Alat Musik Suku Dampelas

Alat Musik Suku Dampelas

Beberapa alat musik tradisional yang berasal dari Suku Dampelas Sulawesi Tengah, antara lain:[2]

Tutuba

Tatali

Geso-Geso

Popondi

Pare'e

Lalove

Santu.

Sekilas tentang suku Dampelas

Suku Dampelas merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah kecamatan Dampelas Sojol, Kabupaten Donggala dan kabupaten Tolitoli di provinsi Sulawesi Tengah Indonesia. Suku ini terkenal karena memiliki tradisi adat yang unik serta benda-benda pusaka sakti dan berkhasiat untuk menghadapi musuh. Orang yang memakai benda-benda pusaka itu akan menjadi dan tidak mempan terhadap guna-guna (santet) dan ilmu hitam lainnya.

Sebagian besar suku Dampelas beragama Islam namun mereka juga mempertahankan kepercayaan animisme. Suku Dampelas mengenal berbagai nama makhluk untuk kekuatan gaib dan juga sebagai tempat perlindungan dan tempat memohon berkat dengan menggunakan cara-cara tertentu. Suku Dampelas juga dikenal sebagai suku yang masih menggunakan benda-benda sakti yang berkhasiat sebagai penangkal serangan musuh. Orang yang menggunakan alat itu seakan-akan menjadi kebal, tidak diganggu oleh hantu, anti terhadap guna-guna yang lain dan sebagainya.

Suku Dampelas banyak bermukim di Desa Kambayang, Talaga, Sabang, Sioyong, Malonas, Rerang, Long, Bayang dan lainnya, dimana desa-desa ini berada di Kecamatan Dampelas.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tradisi Dabang yang merupakan kebiasaan masyarakat suku Dampelas sejak dahulu sampai sekarang

Tradisi Dabang
Tradisi Dabang

Dampelas merupakan salah satu dari 24 suku yang ada di Sulawesi tengah, tepatnya di Kecamatan Dampelas, kabupaten Donggala-Indonesia. Jika kita membahas lebih dalam tentunya sangat banyak sekali tradisi atau budaya suku Dampelas. Kali ini saya akan membahas tentang tradisi Dabang yang merupakan kebiasaan masyarakat suku Dampelas sejak dahulu sampai sekarang.

Menurut salah seorang sesepuh Dampelas  dahulu pernah lahir buaya kembar di danau Dampelas, kembarannya disebut-sebut sebagai dabang. Konon Dabang ini merupakan garis keturunan dari kembaran buaya tersebut, tapi bukan keturunan buaya. Sampai saat ini tradisi Dabang masih dipertahankan. menurut Om Bora dimanapun seseorang itu (berdarah Dampelas asli) pergi, sejauh apapun, kalau memang dia bergaris keturunan Dabang dia pasti akan kembali ke Tanah Dampelas dan melaksanakan ritual tersebut. 

Sebelum melaksanakan ritual ini harus membaca kalimat-kalimat Allah terlebih dahulu untuk meminta kemudahan ataupun kesembuhan untuk si penderita penyakit atau masalah tertentu. Setelah ritual selesai, makanan yang dibentuk buaya itu bisa dimakan. Dabang bisa dilakukan apabila seseorang mengalami masalah tertentu atau penyakit yang memang sudah tidak ada jalan lain untuk menyelesaikannya, biasanya untuk mengetahui apakah harus dilaksanakan tradisi Dabang atau tidak harus di lakukan 'Tahiyao' terlebih dahulu.

Tahiyao merupakan cara meminta petunjuk melalui Al-Qur'an, dan hanya dilakukan oleh orang tertentu saja. Dalam ritualnya Dabang di bentuk menyerupai Buaya yang dibentuk dari beras ketan atau nasi, jarinya menggunakan pisang,telur, ada 1 ekor ayam bakar utuh yang sudah dibersihkan diletakkan dibagian atas nasi berbentuk buaya. sebagai pelengkapnya ada tembako (rokok jaman dulu) , daun sirih, dll.

Sekilas tentang Suku Dampelas

Suku Dampelas merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah kecamatan Dampelas Sojol, Kabupaten Donggala dan kabupaten Tolitoli di provinsi Sulawesi Tengah Indonesia. Suku ini terkenal karena memiliki tradisi adat yang unik serta benda-benda pusaka sakti dan berkhasiat untuk menghadapi musuh. Orang yang memakai benda-benda pusaka itu akan menjadi dan tidak mempan terhadap guna-guna (santet) dan ilmu hitam lainnya.

Sebagian besar suku Dampelas beragama Islam namun mereka juga mempertahankan kepercayaan animisme. Suku Dampelas mengenal berbagai nama makhluk untuk kekuatan gaib dan juga sebagai tempat perlindungan dan tempat memohon berkat dengan menggunakan cara-cara tertentu. Suku Dampelas juga dikenal sebagai suku yang masih menggunakan benda-benda sakti yang berkhasiat sebagai penangkal serangan musuh. Orang yang menggunakan alat itu seakan-akan menjadi kebal, tidak diganggu oleh hantu, anti terhadap guna-guna yang lain dan sebagainya.

Suku Dampelas banyak bermukim di Desa Kambayang, Talaga, Sabang, Sioyong, Malonas, Rerang, Long, Bayang dan lainnya, dimana desa-desa ini berada di Kecamatan Dampelas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Cara menemukan semua kata sandi Wi-Fi yang disimpan di komputer Anda

Cara menemukan semua kata sandi Wi-Fi yang disimpan di komputer Anda.

Tonton Video nya. untuk membuat script file bat di komputer anda.







  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Cara menampilkan Kata Sandi Wifi menggunakan Ponsel Android Anda

Cara menampilkan Kata Sandi Wifi menggunakan Ponsel Android Anda

Cara menampilkan Kata Sandi Wifi menggunakan Ponsel Android Anda

Tonton Video ini untuk melihat Cara menampilkan Kata Sandi Wifi menggunakan Ponsel Android Anda.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sekilas tentang Suku Karo dari Sumatera Utara



 Karo merupakan sebuah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Suku Karo yang dalam bahasa aslinya disebut Kalah Karo merupakan salah satu suku asli di Sumatera Utara. Suku ini memiliki bahasanya sendiri, yaitu bahasa Karo atau Cakap Karo dan aksaranya sendiri.

SEJARAH AWAL KARO
Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aroe) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo (Darwan Prinst, SH :2004). Hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar dikalangan peneliti.
Dalam sebuah naskah kuno mengenai suku Karo, diceritakan bahwa leluhur orang Karo adalah Putri Kerajaan Aroe dan Umang (mahluk yang diyakini memiliki fisik seperti manusia, tetapi tumit kakinya berada di depan). Namun, beberapa tetua Karo mengatakan bahwa suku Karo tidak berasal dari satu darah yang sama (berbeda dengan suku Batak Toba yang diyakini merupakan keturunan dari Si Raja Batak).

MARGA dan IKATAN PERSAUDARAAN
Dalam suku Karo terdapat marga yang bersifat patrineal (berasal dari pihak ayah/diturunkan dari ayah) namun tetap membawa marga ibu-nya(beru ibunya) yang disebut bere. Misalnya seorang anak ayahnya bermarga A, dan ibunya bermarga(berberu) B, maka si anak dikatakan bermarga A bere B. Dalam suku Karo marga disebut merga yang secara etimologis berasal dari kata meherga yang berarti berharga, jadi marga sangat berharga bagi masyarakat Karo.
Dalam suku Karo terdapat lima marga induk yang disebut MERGA SILIMA. Lima marga induk tersebut antara lain:

   1. Sembiring
   2. Ginting
   3. Tarigan
   4. Karo Karo
   5. Perangin-angin

Kelima marga induk tersebut juga memiliki beberapa sub-marga. Sub marga dalam Karo ada diyakini ada yang asli suku Karo dan ada pula yang berasal dari negara lain.Sub marga tersebut yaitu
1. Sembiring
Sembiring terdiri dari:

   1. Kembaren (boleh memakan anjing)
   2. Sinulaki (boleh memakan anjing)
   3. Keloko (boleh memakan anjing)
   4. Pandia (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
   5. Gurukinayan (tidak boleh memakan anjing)
   6. Brahmana (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
   7. Meliala (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
   8. Depari (tidak boleh memakan anjing)
   9. Pelawi (tidak boleh memakan anjing)
  10. Maha (tidak boleh memakan anjing)
  11. Sinupayung (boleh memakan anjing)
  12. Colia (tidak boleh memakan anjing)
  13. Pandebayang (tidak boleh memakan anjing)
  14. Tekang (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
  15. Muham (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
  16. Busok (tidak boleh memakan anjing)
  17. Sinukaban (tidak boleh memakan anjing)
  18. Keling (tidak boleh memakan anjing)
  19. Bunu Aji (tidak boleh memakan anjing)
  20. Sinukapar (tidak boleh memakan anjing)

2. Ginting
Ginting terdiri dari:

   1. Babi
   2. Sugihen
   3. Gurupatih
   4. Ajartambun
   5. Capah
   6. Beras
   7. Garamata
   8. Jadibata
   9. Suka
  10. Manik
  11. Sinusinga
  12. Jawak
  13. Seragih
  14. Tumangger
  15. Pase

3. Tarigan
Tarigan terdiri dari:

   1. Sibero
   2. Tambak
   3. Silangit
   4. Tua
   5. Tegur
   6. Gersang
   7. Gerneng
   8. Gana-gana
   9. Jampang
  10. Tambun
  11. Bondong
  12. Pekan
  13. Purba

4. Karo Karo
Karo Karo terdiri dari:

   1. Sinulingga
   2. Surbakti
   3. Kacaribu
   4. Sinukaban
   5. Barus
   6. Simbulan
   7. Jung
   8. Purba
   9. Ketaren
  10. Gurunsinga
  11. Kaban
  12. Sinuhaji
  13. Sekali
  14. Kemit
  15. Bukit
  16. Sinuraya
  17. Samura
  18. Sitepu

5. Perangin-angin
Perangin-angin terdiri dari:

   1. Namohaji
   2. Sukatendel
   3. Mano
   4. Sebayang
   5. Pencawa
   6. Sinurat
   7. Perbesi
   8. Ulunjandi
   9. Penggarus
  10. Pinem
  11. Uwir
  12. Laksa
  13. Singarimbun
  14. Keliat
  15. Kacinambun
  16. Bangun
  17. Tanjung
  18. Benjerang

Itulah keseluruhan marga yang terdapat dalam suku Karo.
Dalam ikatan persaudaraan dikenal istilah Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh, dan Perkade-kaden si Sepuluh Dua tambah Sada.

1. Rakut Sitelu
Dalam suku Karo posisi Rakut Sitelu sangatlah penting. Rakut Sitelu dapat diumpamakan sebagai tungku kaki tiga. Jika salah satu unsur tidak ada maka akan terjadi ketimpangan. Rakut sitelu terdiri atas

   1. Kalimbubu, secara sederhana dapat diartikan keluarga istri.
   2. Anak Beru, secara sederhana dapat diartikan sebagai keluarga yang memperistri
   3. Senina, diartikan sebagai keluarga satu marga.

Dalam suku Karo, jika diadakan suatu aktivitas adat, maka yang menjalankan kegiatan adat tersebut adalah Rakut Sitelu.

2. Tutur Siwaluh
Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan. Tutur Siwaluh terdiri dari:

   1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang atau Puang kalimbubu adalah kelompok kalimbubu dari kelompok pemberi dara

   2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi: Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.

      a. Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
      b. Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.

   3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.

   4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).

   5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.

   6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.

   7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri. Anak beru ini terdiri lagi atas:
      a. Anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
      b. Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.

   8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.


3. Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada
Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada ialah bentuk kekerabatan saudara terdekat dalam bentuk panggilan, yaitu:

   1. Nini
   2. Bulang
   3. Kempu
   4. Bapa
   5. Nande
   6. Anak
   7. Bengkila
   8. Bibi
   9. Permen
  10. Mama
  11. Mami
  12. Bere-bere
  13. Tambah Sada ialah mereka orang-orang terdekat diluar lingkup keluarga seperti sahabat.

BUDAYA DAN KESENIAN
Budaya utama dari setiap peradaban adalah rumah. Konstruksi rumah mennjukkan kemajuan suatu peradaban. Rumah Adat Karo disebut sebagai Rumah Siwaluh Jabu, ini dikarenkan rumah ini dihuni oleh delapan kepala keluarga.
Rumah Siwaluh Jabu,memiliki bentuk rumah panggung dengan ukiran dan ornamen mistis diseluruh bagian rumah.

A. PERKAWINAN
Dalam pandangan masyarakat Karo dalam adat perkawinan, dikenal berbagai jenis perkawinan menurut adat.
Berikut adaah jenis-jenis perkawinan dalam suku Karo dan penjelasannya yang mudah dimengerti.

   1. Lako Man (Ganti Tikar)
Perkawinan 'Lako Man" terjadi apabila seorang laki-laki,terlepas dari ia sudah pernah kawin atau belum mengawini istri dari adik atau kakaknya yang telah meninggal dunia.(tradisi ini sudah tidak dilakukan lagi sejak adanya agama di suku Karo)

   2. Gancih Abu
Perkawinan ini terjadi karena seorang istri meninggal dunia, dimana untuk tetap langgengnya hubungan keluarga, terlebih karena sudah ada keturunan, maka pihak suami mengawini saudara kandung dari istrinya yang sudah meninggal

   3. Mindo Nakan

 Seorang anak yang sudah dewasa mengawini ibu tirinya dikarenakan ayahnya sudah meninggal dunia. Biasanya umur sang anak denga ibu tirinya tidak terlalu jauh berbeda.

   4. Mindo Lacina
Perkawinan ini terjadi antara seorang laki-laki denga seorang wanita yang menurut kekerabatan silaki-laki memanggil nenek kepada wanita tersebut(karena istri kakeknya). Di dalam hal ini hubungan kekerabatan antara edua belah pihak masih dekat dimana perkawinan dapat berlangsung, karena /jikalau si nenek itu telah janda.

   5. Merkat Sinuan
 Perkawinan terjadi apabila seorang laki-laki kawin dengan putri "puang kalimbubu". Menurut adat, sebenarnya perkawinan sepert ini tiddak dibnarkan,karena "erturangku". Tapi, karena pertimbangan dan faktor lain atau mempererat hubungan keluarga, menyambung keturunan dan lain-lain, perkawinan yang sebenarnya dilarang itu dilangsungkan juga. Tapi acara adat yang dijalankan harus sempurna (ua Banggong).
  
6. Caburken Bulung
Caburke bulung adalah perrkawinan anak-anak di bawah umur atara seorang anak laki-laki dengan iparnya. Acara peresmiannya memang agak sama dengan acara peresmian perkawinan biasa. Hal itu terjadi atas persetujuan kedua belah pihak orang tua, karena berbagai faktor. Ini bukan menjadi jaminan kalau sudah dewasa nanti keduanya harus menjadi suami istri.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Badik Senjata Khas Sulsel


EWAKO !!!
adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis-Makassar....
Menurut Kamus Populer Inggris-Makassar Indonesia-Makassar, kata rewako merupakan terjemahan dari kata ‘berani’ dalam bahasa Indonesia, dan ‘brave’ dalam bahasa Inggris. Keberanian masyarakat Bugis-Makassar tergambar dalam semboyan pelaut Bugis-Makassar, yang juga menjadi petuah (pappasang) Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo: Takunjunga bangunturu’ Takugunciri gulingku Kualleanna Tallanga Natoalia. Artinya: Tidak begitu saja aku ikut angin buritan. Aku akan putar kemudiku. Lebih baik aku tenggelam daripada balik haluan.
Mungkin kata-kata EWAKO ini memang cocok dengan senjata khas Sulawesi Selatan yang akan kita bahas yaitu "BADIK"


Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor. Namun demikian, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah).

Badik ini merupakan senjata khas tradisonal Makassar, Bugis dan Mandar yang berada dikepulauan Sulawesi. Ukurannya yang pendek dan mudah dibawa kemana mana, tapi jangan salah lho kalau badik ini sudah keluar dari sarungnya pantang untuk dimasukkan sebelum meminum darah.

Maka biasanya senjata adat yang bernama Badik ini dahulu sering dipakai oleh kalangan petani untuk melindungi dirinya dari binatang melata dan atau membunuh hewan hutan yang mengganggu tanamannya. Selain itu karena orang bugis gemar merantau maka penyematan badik dipinggangnya membuat dia merasa terlindungi.

Badik memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda-beda tergantung dari daerah mana ia berasal. Di Makassar badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa dan banong (sarung badik). Sementara itu badik Bugis disebut kawali, seperti kawali raja (Bone) dan kawali rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian bagian: Pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung)


Umumnya badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya siri' dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep siri' ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain dari pada itu ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso yang memiliki nilai sejarah. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk seseorang.
Macam-macam Badik

1. Badik Raja (gecong raja, bontoala)

Gambar 1. Badik Raja (gecong raja, bontoala)
badik yang asalnya dari daerah kajuara kabupaten bone , dalam pembuatan badik ini,, orang2 disekitar kajuara sana masih percaya jika badik raja dibuat oleh makhluk halus, ketika malam, terdengar suara palu bertalu-talu dalam lanraseng gaib sampai paginya masyarakat sana menemukan jadilah sebuah badik raja,, badik ini bilahnya aga” besar ukurannya 20-25 cm, menurut bang ray divo, Ciri-ciri badik raja hampir mirip dengan badik lampobattang, bentuk bilahnya agak membungkuk, dari hulu agak kecil kemudian melebar kemudian meruncing. Pada umumnya mempunyai pamor timpalaja atau mallasoancale di dekat hulunya. Bahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol dipermukaan, kalau kecil disebut uleng-puleng kalau besar disebut batu-lappa dan kalau menyebar di seluruh permukaan seperti pasir disebut bunga pejje atau busa-uwae. Badik raja di masa lalu hanya digunakan oleh arung atau dikalangan bangsawan-bangsawan dikerajaan Bone.

2. Badik Lagecong
Gambar 2. Badik Lagecong

Badik lagecong,, Badik bugis satu ini dikenal sebagai badik perang, banyak orang mencarinya karna sangat begitu terkenal dengan mosonya (racunnya), banyak orang percaya bahwa semua alat perang akan tunduk pada badik gecong tersebut,,
ada dua versi , yang pertama ,Gecong di ambil nama dari nama sang pandre (empu) yang bernama la gecong, yang kedua diambil dari bahasa bugis gecong atau geco”, yang bisa diartikan sekali geco” (sentuh) langsung mati,,
sampai saat ini banyak yang percaya kalau gecong yang asli adalah gecong yang terbuat dari daun nipah serta terapung di air dan melawan arus,, wallahu alam,, panjang gecong biasanya sejengkalan orang dewasa, pamor lonjo,, bentuknya lebih pipih,tipis tapi kuat.


3. Badik Luwu
Gambar 3. Badik Luwu

Badik luwu,, badik luwu yang berasal dari kabupaten luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabbukku tedong (bungkuk kerbau), bilahnya lurus dan meruncing kedepan,, badik bugis kadang diberikan pamor yang sangat indah, hingga kadang menjadi buruan para kolektor ..di bajanya terdapat rakkapeng atau sepuhan pada baja yang konon disepuh dengan bibir dan “maaf” alat kelamin gadis perawan sehingga konon tidak ada orang yang kebal dengan badik luwu ini,


4. Badik Lompo Battang (badik siperut besar/jantung pisang)
Gambar 4. Badik Lompo Battang

Badik lompo battang atau sari,, badik ini berasal dari Makassar, bentuknya seperti jantung pisang, ada jg yang bilang seperti orang hamil, makanya orang menyebutnya lompo battang (perut besar), konon katanya jika ada orang terkena badik ini, maka dia tidak akan bertahan dalam waktu 24 jam,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Macam-Macam Wayang

Wayang wahyu menceritakan tentang alkitab atau bibel .wayang ini di ciptakan pertama kali oleh Pdt.Bruder Tometheos ,terbuat dari kulit sapi atau lembu
Wayang suluh adalah wayang yang menceritakan tentang penyuluhan kepada rakyat atau berisi sindiran kepada pejabat atau pemerintah
Wayang orang sama definisinya dengan wayang kulit tetapi bedanya sesuai dengan namanya, wayang ini diperankan oleh Orang atau Wong
Wayang kulit purwa adalah salah satu wayang yang terbuat dari kulit sapi atau lembu (makanya di sebut wayang kulit ) ,mengisahkan cerita cerita purwa Ramayana dan Mahabharata .diciptakan pertama kali wayang kulit oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah Agama Islam
Wayang beber pada zaman sekarang telah punah di telan zaman , .wayang ini terbuat dari kain gulungan ,lalu dalang membuka gulungan ,menancapkannya dan menceritakan adegan di gulungan tersebut
Wayang golek terbuat dari kayu .biasanya kayu yang dipakai adalah kayu mahoni .wayang golek banyak di gunakan dalam beberapa cerita .diantaranya wayang golek purwa yang menceritakan tentang epos Ramayana dan Mahabharata ,wayang golek lenong betawi yang menceritakan tentang betawi ,misalnya si manis jembatan ancol atau si jampang jago betawi .

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Seni Teater INDONESIA


10. Ubrug
Ubrug" di Pandeglang dikenal sebagai kesenian tradisional rakyat yang semakin hari semakin dilupakan oleh penggemarnya. Istilah ‘ubrug’ berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi.

Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsur lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk.

Selain berkembang di provinsi Banten, kesenian Ubrug pun berkembang sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan yang tentunya dipentaskan menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Teater Ubrug pada awalnya dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda daun kelapa atau rubia.
Untuk penerangan digunakan lampu blancong, yaitu lampu minyak tanah yang bersumbu dua buah dan cukup besar yang diletakkan di tengah arena. Lampu blancong ini sama dengan oncor dalam ketuk tilu, sama dengan lampu gembrong atau lampu petromak. Sekitar tahun 1955, ubrug mulai memakai panggung atau ruangan, baik yang tertutup ataupun terbuka di mana para penonton dapat menyaksikannya dari segala arah.


9. Lenong
"Lenong" adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi, Jakarta. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong. Konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya. Pada zaman dahulu (zaman penjajahan), lenong biasa dimainkan oleh masyarakat sebagai bentuk apresiasi penentangan terhadap tirani penjajah.
Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an.

Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela

Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.

8. Ludruk

Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari (cerita wong cilik), cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum, dll).

7. Ketoprak


Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di daerah-daerah tersebut ketoprak merupakan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan emprak.
Kata ‘kethoprak’ berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata Tiprak ini bermula dari prak. Karena bunyi tiprak adalah prak, prak, prak. Serat Pustaka Raja Purwa jilid II tulisan pujangga R. Ng. Rangga Warsita dalam bukunya Kolfbunning tahun 1923 menyatakan “… Tetabuhan ingkang nama kethoprak tegesipun kothekan”

ini berarti kethoprak berasal dari bunyi prak, walaupun awalnya bermula dari alat bernama tiprak.
Kethoprak juga berasal dari kothekan atau gejogan. Alat bunyi-bunyian yang berupa lesung oleh pencipta kethoprak ditambah kendang dan seruling.
Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggahungguh bahasa. Dalam bahasa Jawa terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu:
- Bahasa Jawa biasa (sehari-hari)
- Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi)
- Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi)
Menggunakan bahasa dalam ketoprak, yang diperhatikan bukan saja penggunaan tingkat-tingkat bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa. Karena itu muncul yang disebut bahasa ketoprak, bahasa Jawa dengan bahasa yang halus dan spesifik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat.


6. Longser

Longser merupakan salah satu bentuk teater tradisional masyarakat sunda, Jawa barat. Longser berasal dari akronim kata melong (melihat dengan kekaguman) dan saredet (tergugah) yang artinya barang siapa yang melihat pertunjukan longser, maka hatinya akan tergugah. Longser yang penekanannya pada tarian disebut ogel atau doger. Sebelum longser lahir dan berkembang, terdapat bentuk teater tradisional yang disebut lengger.

Busana yang dipakai untuk kesenian ini sederhana tapi mencolok dari segi warnanya terutama busana yang dipakai oleh ronggeng. Biasanya seorang ronggeng memakai kebaya dan kain samping batik. Sementara, untuk lelaki memakai baju kampret dengan celana sontog dan ikat kepala.

5. Mamanda


Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari kalimantan selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, mamanda lebih mirip dengan lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.

Bedanya, kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti raja, perdana menteri, mangkubumi, wazir, panglima perang, harapan pertama, harapan kedua, khadam (badut/ajudan), permaisuri dan sandut (putri).

Disinyalir istilah mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti wazir, menteri, dan mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh sang raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.

Asal muasal mamanda adalah kesenian badamuluk yang dibawa rombongan abdoel moeloek dari malaka tahun 1897. Dulunya di kalimantan selatan bernama komedi indra bangsawan. Persinggungan kesenian lokal di banjar dengan komedi indra bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai ba abdoel moeloek atau lebih tenar dengan badamuluk. Kesenian ini hingga saat ini lebih dikenal dengan sebutan mamanda.

Bermula dari kedatangan rombongan bangsawan malaka (1897 m) yang dipimpin oleh encik ibrahim dan isterinya cik hawa di tanah banjar, kesenian ini dipopulerkan dan disambut hangat oleh masyarakat banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama "mamanda".
Seni drama tradisional mamanda ini sangat populer di kalangan masyarakat kalimantan pada umumnya


4. Randai

Randai adalah kesenian (teater) khas masyarakat minangkabau, sumatra barat yang dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Randai dapat diartikan sebagai “bersenang-senang sambil membentuk lingkaran” karena memang pemainnya berdiri dalam sebuah lingkaran besar bergaris tengah yang panjangnya lima sampai delapan meter. Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat minangkabau, seperti cerita cindua mato, malin deman, anggun nan tongga, dan cerita rakyat lainnya. Konon kabarnya, randai pertama kali dimainkan oleh masyarakat pariangan, padang panjang, ketika mereka berhasil menangkaprusa yang keluar dari laut.

Kesenian randai sudah dipentaskan di beberapa tempat di indonesia dan bahkan dunia. Bahkan randai dalam versi bahasa inggris sudah pernah dipentaskan oleh sekelompok mahasiswa di university of hawaii, amerika serikat.

Kesenian randai yang kaya dengan nilai etika dan estetika adat minangkabau ini, merupakan hasil penggabungan dari beberapa macam seni, seperti: Drama (teater), seni musik, tari dan pencak silat.


3. Drama gong

Drama gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional bali. Dalam banyak hal drama gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (barat) dengan teater tradisional (bali). Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional bali masih begitu kuat, maka semula drama gong disebut "drama klasik". Nama drama gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan gong (gong kebyar). Drama gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh anak agung gede raka payadnya dari desa abianbase (gianyar).

Drama gong mulai berkembang di bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun popularitasnya, sekarang ini ada sekitar 6 buah sekaa drama gong yang masih aktif.


2. Makyong

Makyong adalah seni teater tradisional masyarakat melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Makyong dipengaruhi oleh budaya hindu-buddha thai dan hindu-jawa. Nama makyong berasal dari mak hyang, nama lain untuk dewi sri, dewi padi.
Makyong adalah teater tradisional yang berasal dari pulau bintan, riau. Makyong berasal dari kesenian istana sekitar abad ke-19 sampai tahun 1930-an. Makyong dilakukan pada siang hari atau malam hari. Lama pementasan ± tiga jam



1. Wayang

Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum masehi. Masyarakat indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.

Wayang merupakan seni tradisional indonesia yang terutama berkembang di pulau jawa dan bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh unesco pada tanggal 7 november 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (masterpiece of oral and intangible heritage of humanity).

G.a.j. Hazeu mengatakan bahwa wayang dalam bahasa/kata jawa berarti: Bayangan , dalam bahasa melayu artinya: Bayang-bayang, yang artinya bayangan, samar-samar, menerawang. Bahasa bikol menurut keterangan profesor kern, bayang, barang atau menerawang. Semua itu berasal dari akar kata "yang" yang berganti-ganti suara yung, yong, seperti dalam kata: Laying (nglayang)=yang, dhoyong=yong, reyong=yong, reyong-reyong, atau reyang-reyong yang berarti selalu berpindah tempat sambil membawa sesuatu, poyang-payingen, ruwet dari kata asal: Poyang, akar kata yang. Menurut hasil perbandingan dari arti kata yang akar katanya berasal dari yang dan sebagainya tadi, maka jelas bahwa arti dari akar kata: Yang, yung, yong ialah bergerak berkali-kali, tidak tetap, melayang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sejarah Wayang Golek

Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun 'wayang purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi, seperti golek. Oleh karena itu, disebut sebagai wayang golek.

Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650)). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).

Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayang kulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru, Ujung Berung, untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan selanjutnya, atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai mendalang, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.


Ada tiga jenis wayang golek, yaitu: wayang golek cepak, wayang golek purwa, dan wayang golek modern. Wayang golek papak (cepak) terkenal di Cirebon dengan ceritera babad dan legenda serta menggunakan bahasa Cirebon. Wayang golek purwa adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan pengantar bahasa Sunda sebagai. Sedangkan, wayang golek modern seperti wayang purwa (ceritanya tentang Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam pementasannya menggunakan listrik untuk membuat trik-trik. Pembuatan trik-trik tersebut untuk menyesuaikan pertunjukan wayang golek dengan kehidupan modern. Wayang golek modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dan dikembangkan oleh Asep Sunandar tahun 1970--1980.

Wayang Golek Cepak
Wayang golek cepak adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang ada di Indramayu dan Cirebon. Golek artinya boneka sedangkan kata cepak diambil dari bentuk kepala (mahkota) wayang yang papak (rata). Karena bentuk inilah jenis kesenian ini dinamakan wayang golek cepak. Konon wayang ini diciptakan oleh Sunan Gunung Djati sebagai media dakwah.

Berbeda dengan wayang kulit purwa, dalam wayang golek cepak tidak dikenal tokoh seperti Arjuna atau Shinta. Tokoh-tokoh yang ada dalam wayang golek cepak adalah subjek yang ada dalam babad atau sejarah. Maka dikenallah Nyi Mas Gandasari, Wiralodra, Ki Tinggjl, Kuwu Sangkan, Bagal Buntung, dan lain-lain. Dengan demikian, wayang ini sesungguhnya teater sejarah, panggung pendidikan. Dengan kata lain, ia sebuah diorama yang bergerak.

Selain grup "Sekar Harum" pimpinan dalang Ki Ahmadi, ada juga grup dan
dalang kesenian wayang golek lainnya. Mereka adalah Dalang Warsyad dengan gmp "Jaka Baru" dari Gadingan Sliyeg dan dalang Ki Tayut dari Desa Juntinyuat dengan nama grupnya "Sri Budi". Ki Tayut boleh dikatakan dalang senior untuk wayang golek cepak. Ia kemudian mewariskan ilmu dan perangkat keseniannya kepada anak dan cucunya, antara lain Taram, Asmara, dan Tarjaya.Setali tiga uang, nasib grup kesenian dan dalangnya sama; dalam titik nadir.

Wayang Golek Purwa
Wayang purwa sendiri biasanya menggunakan ceritera Ramayana dan Mahabarata, sedangkan jika sudah merambah ke ceritera Panji biasanya disajikan dengan wayang Gedhog. Wayang kulit purwa sendiri terdiri dari beberapa gaya atau gagrak, ada gagrak Kasunanan, Mangkunegaran, Ngayogjakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainnya.
Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit kerbau, yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit.

Cara Pembuatan
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, putih, prada, dan hitam.

Nilai Budaya
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat". Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung. Isinya antara lain sebagai berikut:

Satu: Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya.
Dua: Mendidik masyarakat. Itulah sebabnya diwajibkan memberi con-toh, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku.

Tiga: Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau membantu pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada masyarakat. Empat: Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa gotong-royong dalam segala masalah. Lima: Susilawan. Diwajibkan menjaga etika di lingkungan masyarakat. Enam: Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan menjaga kepribadian sendiri dan bangsa. Tujuh: Setiawan. Maka diwajibkan tunduk dan taat, serta menghormati hukum Republik Indonesia, demikian pula terhadap adat-istiadat bangsa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Yapong - Betawi

Tari Yapong

Satu jenis tarian tradisional yang diciptakan untuk pertunjukan. Yapong bukan tari pergaulan seperti Jaipongan, yang berasal dari Jawa Barat, namun kemudian dalam perkembangannya kadang kala berfungsi sebagai tari pergaulan untuk mengisi acara menari sesuai permintaan karena tarian ini penuh dengan variasi.

Yapong mula-mula diorbitkan dalam rangka mempersiapkan acara peringatan HUT Kota Jakarta ke-450 pada tahun 1977. Pada saat itu, Dinas Kebudayaan DKI menyiapkan sebuah pergelaran tari massal yang spektakuler dengan mempergelarkan cerita . perjuangan Pangeran Jayakarta. Pergelaran berbentuk sendratari ini dipercayakan penggarapannya kepada seniman Bagong Kussudiarjo. Untuk mempersiapkan pergelaran itu, Bagong mengadakan penelitian selama beberapa bulan mengenai kehidupan masyarakat Betawi melalui perpustakaan, film, slide maupun langsung pada masyarakat Betawi. Akhirnya pergelaran tari ini berhasil dipentaskan pada tanggal 20 dan 21 Juni 1977 di Balai Sidang Senayan. Pementasannya didukung 300 orang artis dan musikus.

Tari Yapong merupakan suatu tari gembira dengan gerakan yang dinamis dan erotis. Dalam adegan tersebut dipertunjukkan suasana gembira menyambut kemenangan Pangeran Jayakarta. Adegan ini dinamai Yapong dan tidak mengandung arti apapun. Namun istilah Yapong ini lahir dari bunyi lagunya ya, ya, ya, ya, yang dinyanyikan artis pengiringnya serta suara musik yang berkesan pong, pong, pong, sehingga lahirlah "ya-pong" dan berkembang menjadi Yapong.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Pado'a - NTT


Tarian Pado’a. adalah bentuk tarian yang dapat dibawakan oleh banyak orang dan membentuk lingkaran besar, dan tarian ini dapat membawah pesan bahwa tidak ada perbedaan, semua menjadi satu dan mencerminkan sifat dan keramahan-tamahan, keceriaan, serta keterbukan masyrakan Timor di NTT.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Bonet - NTT

Dulunya Tari Bonet digelar saat masyarakat suku Dawan hendak meminta perlindungaa kepada Tuhan, agar menjaga kesuburan jagung, makananpokoknya, sampai musim panen berikut. Kini, seiring dengan perkembangan zaman, Tari Bonet yang menggunakan alat bantu pertunjukan berupa lesung dan alu, digelar dalam situasi apa pun, mulai dari pernikahan sampai acara menyambut tamu. Suku Dawan merupakansuku besar di Pulau Timor bagian barat. Tersebar di wilayah administrasi Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara.

Oleh masyarakat suku tersebut, tarian ini dipercaya sebagai salah satu khazanah sastra lisan yang masih tersisa di NTT. Selain tiga tarian lainnya, yakni Heta, Tonis, dan Niiii.

Tari Bonet, seperti tarian khas NTT pada umumnya-Lego-Lego di Pulau Alor, Gawi di Pulau Flores-ditarikan dengan cara membentuk lingkaran. Pe-narinya saling bergandengan tangan dan berputar sambil melantunkan pantun dengan syair-syair yang memiliki rimaberulang. Biasanya dipertun-jukkan semalam suntuk.

Bagi suku Dawan, menari dengan membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan adalah simbol persatuan dan kesatuan antara tiga subsu-ku Davvan, yakni Amanatun, Amanuban, dan Mollo.

Sampai sekarang tarian ini sudah mulai ditinggalkan, diganti dengan tarian dansa-dansi dengan iringan musik rekaman pop daerah.

Bonet, adalah salah contoh saja dari kekayaan kebudayaan Timor Tengah Selatan (TTS) yang ada dan hidup di hati masyarakat, bukan hadir di atas bebatuan cadas. Masih ada aneka percikan keseniaan dan kebudayaan lainnya. Dari fakta ini, maka para pakar kebudayaan selalu mendefinisikan bahwa kebudayaan adalah sebuah kata kerja, bukan kata benda semata-mata. Sebagai kata kerja, ia sedang berproses, mencipta (kreasi) terus menerus, menghidupkan, mendenyutkan nadi, melantunkan ekspresi, berotasi dari sebuah ujung komunikasi ke ruang komunikasi yang lain dan sebagainya.

Maka manusia sesungguhnya lahir dari selimut kebudayaan. Saat derai tangisan pertama disahut manja sang ibu yang sedang tergolek lemah di sebuah ruang persalinan rumah sakit, saat itu pula komunikasi sudah berlangsung. Komunikasi tanpa kata, tanpa bahasa. Sebuah ungkapan komunikasi hati, komunikasi cinta.

Dari gambaran di atas, kreasi manusia dalam menciptakan kebudayaan adalah untuk mengungkapkan rasa cintanya, hasrat bathinnya, baik kepada manusia, kepada alam, dan yang terutama kepada Tuhan Pencipta semesta alam. Maka Bonet kesenian lokal yang timbul karena ada kekuatan saling menopang dan mempedulikan.

Dengan demikian, dari pelbagai corak yang ada, kebudayaan dimana pun juga di wilayah Nusantara ini hadir untuk memberi topangan pada kerucut atau piramida kebudayaan nasional dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu jua). Itulah kekayaan, aset, yang tidak bisa dibeli dengan emas atau apapun juga, selain daripada menjaga agar tidak punah. Sebab, kepunahan sebuah kebudayaan (habit) dan kesenian (art) merupakan kecelakaan bagi peradaban itu sendiri.

Peristiwa keajaiban alam seringkali membawa “pesan” yang secara misteri dapat dihayati sebagai ungkapan dan sapaan ilahi (supranatural) bagi manusia yang menerimanya. Alam Timor Tengah Selatan yang gersang dan kering kerontang bisa saja membahasakan pesan-pesan tertentu agar manusia dan alam hidup menyatu dan bersatu padu di bumi nusantara ini.

Lihatlah pelbagai isyarat alam di sekitar kita. Misalnya, ketika musim hujan sudah diambang pintu, ada sekawanan burung yang terbang rendah dri satu kampung ke kampung lainnya seakan menyuarakan kabar kepada petani untuk segera bergegas menyiangi ladangnya yang masih berantakan. Saat Guntur sudah terdengar sayup-sayup di awal bulan Desember, saat itu pula sekelompok burung lainnya terbang dari dahan ke dahan memperdengarkan koor suaranya seakan memuji kebesaran Tuhan. Betapa manusia, alam dan binatang harus hidup dalam bingkai keharmonisan.

Demikian pun saat musim hujan turun dengan lebatnya, ada sekawanan besar kodok yang berada di danau atau dalam kubangan di rumah sekitar kita seakan tertidur lelap, tanpa suara. Tapi ketika hujan berangsur reda, suara kodok bersahut-sahutan, suara “panglima” kodok seakan lebih merdu untuk menuntun paduan suara kokok-kodok lainnya. Betapa indah dan merdu suara-suara itu seakan ada dirigen yang memulainya dan menghentikannya serentak.


Tidak ada yang tahu, apakah suara kodok itu sedang memuji Tuhan, sedang bergembira ria karena kemarau panjang telah berlalu sehingga “ujian kepunahan” telah dilalui, atau menari-nari karena buruan mangsa sudah di depan mata. Isyarat alam memang misteri bagi manusia dan karena itu terkadang sulit mencernanya. Yang pasti, suara alam, suara kodok, dapat menjadi inspirasi bagi manusia untuk sebuah aktivitas kebudayaan. Sebuah gunung api yang meletus, misalnya, dapat dijadikan lagu sentimentalia oleh seorang penggubah lagu karena ia memiliki karunia untuk melihat dan meresapi begitu banyak korban jiwa.


Demikian pula peristiwa suara kodok yang terjadi berulang kali, menimbulkan inspirasi pada orang-orang tertentu (anonim) untuk menirukan suara kodok itu. Nah, di sinilah secara historis awal mula timbulnya tarian Bonet. Sambil bergandengan tangan, mereka menyanyi sambil melangkah mengelilingi danau atau kubangan itu. Setiap malam aktivitas itu dilakukan, tanpa jenuh. Mereka menirukan nyanyian kodok-kodok itu, hingga menjadi suatu kebiasaan yang dianggap sebagai hiburan pelepas lelah di malam hari.


Mereka membentuk lingkaran dan bergandengan tangan, kemudian gerakan-gerakan kaki yang menari secara seragam, bergeser ke kanan laksana bundaran yang berputar mengitari pusatnya. Sementara irama lagu yang diperdengarkan para penari mengikuti derap kaki dalam tarian yang sementara dihayatinya itu. Bait-bait pantun yang diungkapkan pemantun selaku dalang kemudian dinyanyikan bersama-sama. Irama lagu yang dinyanyikan pun singkat dan statis. Sementara pantun-pantun yang diungkapkan oleh para dalang-nya pun bersifat nasihat, jenaka, ejekan, teka-teki. Ungkapan pantun biasanya disesuaikan dengan maksud diadakannya acara yang penuh kegembiraan itu.


Itulah tarian Bonet. Sebuah tarian tradisional masyarakat Timor Tengah Selatan yang paling tua usianya. Atraksi tarian yang dilakukan menirukan suara kodok. Hentakan suara kodok, ritme yang ditata, tarikan napas yang diperdengarkan adalah sehaluan dengan suara kodok itu. Tentu saja bedanya, kodok tidak berbahasa dan berpantun seperti manusia yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam, dengan sesamanya manusia dan dengan Tuhan Sang Pencipta melalui syair-syair pantun tersebut.

Tarian Bonet dapat diikuti semua orang, baik laki-laki dan perempuan, tua dan muda, tanpa membedakan status sosial. Untuk melakukan tarian Bonet, para penari bergandengan tangan, kecuali di wilayah Amanatun, melipat tangan ke dada dan siku saling bertumpuan. Bentuk tarian yang melingkar mempunyai makna tersendiri. Bentuk tarian yang melingkar mempunyai makna tersendiri. Bentuk bundaran memiliki makna bahwa sesuatu yang bulat itu mempunyai kesatuan dan keutuhan. Di dalam kesatuan dan keutuhan, para penari memiliki kesatuan berpikir, berkata dan berbuat. Segala keberhasilan dan kemenangan yang dicapai di dalam perjuangan merupakan bukti adanya kebulatan hati, kebulatan berpikir, seia-sekata dan keseragaman dalam bertindak dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada secara bersama-sama.

Bonet juga merupakan wadah pancaran pujaan bagi yang diagungkan, yang senantiasa memberi terang dan tuntunan di dalam perjuangan hidup. Para penari yang bergandengan tangan secara ketat juga mengandung makna pula bahwa di dalam lingkaran kehidupan terdapat rasa cinta kasih, hidup dalam kegotong-royongan, saling menolong dalam suka dan duka. Apabila tidak bergandengan tangan, maka masing-masing akan berdiri sendiri, tidak bersatu, arti kemanusiaan akan hilang, tidak bertahan dalam menghadapi tantangan.
Di sini pandangan terhadap sesama adalah sama dan sederajat, bahkan dalam penghayatan lebih dalam, “saya tidak akan hidup dan berguna tanpa engkau dan sebalikanya”. Ini merupakan filosofi kehidupan sebuah masyarakat yang mungkin dapat digali lebih dalam secara ilmiah oleh para pakar kebudayaan.

Antara tarian, pantun dan lagu merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan mendukung, sehingga tarian Bonet menjadi hidup dan bersemangat. Betapa indahnya mendengar alunan syair-syair pantun yang dilansir secara bergantian dan bersahut-sahutan. Di sini ada unsur kepatuhan, ketelatenan, kesediaan mendengar dan mengapresiasi, kemampuan menganalisa dan menebak isi pantun, disiplin menyanyi dan menjaga barisan, dsbnya. Maka menarik untuk diungkapkan di sini, sebuah gambaran umum sifat/tingkah laku masyarakat Timor Tengah Selatan, bahwa dilihat dai aspek sosial budaya, penduduk masih terikat dalam struktur genelogis yang berpengaruh terhadap sistem kemasyarakatan. Adapun ciri-cirinya adalah: taat, setia, dan panutan.

Kekompakan kelompok tradisionalnya sangat kuat, baik terhadap adat kebiasaan maupun terhadap agama. Kesetiaan terhadap kelompok serta ketaatan dan kepatuhan terhadap pemimpinnya sangat menonjol. Betapapun sederhananya, kelompok masyarakat saling berhubungan, saling memberi dan menerima. Walaupun lambat, namun kelompok-kelompok tetap hidup dan berkembang dengan keinginan untuk maju dan memerlukan tuntunan. Juga karakter lainnya adalah tertutup dalam pengertian bukan terisolir baik tempat maupun pola pikir, tapi dalam konteks bahwa kelompok itu tidak suka mengungkapkan perasaannyakepada siapa saja yang tidak atau belum dipercayainya.

Apa relevansi karakter dasar ini dengan Bonet? Keinginan kelompok untuk saling berhubungan, saling memberi dan menerima, itulah percikan dari komunikasi budaya “mencinta” yang hidup dalam nuansa theater bertutur itu. Lihatlah bagaimana mereka saling berbalas pantun, saling memahami dan mengerti satu dengan lain. Juga lihatlah bagaimana perasaan senasib sepenanggungan ketika menghadapi pelbagai rintangan saat mengapresiasi isi pantun, menganalisa dan membalasnya.

Juga bagaimana mereka saling menopang, merancang lingkaran bersama untuk memulai gerakan tarian. Ibarat sapu lidi yang hanya berfungsi membersihkan lantai jika diikat dalam satu kesatuan, demikian pun mereka seperti merasa tidak ada artinya jika harus berjuang sebatang lidi tanpa kesatuan “lidi-lidi” lainnya.

Demikian dalam tarian ini, ada unsur kebersamaan, kegotong-royongan, saling menghargai dan saling memberi dan menerima, ibarat ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Tidak disangka bahwa dalam konteks tersebut, sadar ataupun tidak, mereka telah masuk dalam bingkai ajaran agama yang bermakna universal, yakni cinta kasih.

Di dalamnya ada pengejawantahan dari hakekat kehidupan yang empaty, yakni ikut menangis renyah dikala teman susah dan ikut derai senang dikala teman bahagia. Itulah puncak tertinggi penghayatan tarian Bonet ini, yang mudah-mudahan tetap lestari abadi. Karena di sana ada cinta, dan cinta itu selalu abadi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS