Tari Pado'a - NTT


Tarian Pado’a. adalah bentuk tarian yang dapat dibawakan oleh banyak orang dan membentuk lingkaran besar, dan tarian ini dapat membawah pesan bahwa tidak ada perbedaan, semua menjadi satu dan mencerminkan sifat dan keramahan-tamahan, keceriaan, serta keterbukan masyrakan Timor di NTT.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Bonet - NTT

Dulunya Tari Bonet digelar saat masyarakat suku Dawan hendak meminta perlindungaa kepada Tuhan, agar menjaga kesuburan jagung, makananpokoknya, sampai musim panen berikut. Kini, seiring dengan perkembangan zaman, Tari Bonet yang menggunakan alat bantu pertunjukan berupa lesung dan alu, digelar dalam situasi apa pun, mulai dari pernikahan sampai acara menyambut tamu. Suku Dawan merupakansuku besar di Pulau Timor bagian barat. Tersebar di wilayah administrasi Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara.

Oleh masyarakat suku tersebut, tarian ini dipercaya sebagai salah satu khazanah sastra lisan yang masih tersisa di NTT. Selain tiga tarian lainnya, yakni Heta, Tonis, dan Niiii.

Tari Bonet, seperti tarian khas NTT pada umumnya-Lego-Lego di Pulau Alor, Gawi di Pulau Flores-ditarikan dengan cara membentuk lingkaran. Pe-narinya saling bergandengan tangan dan berputar sambil melantunkan pantun dengan syair-syair yang memiliki rimaberulang. Biasanya dipertun-jukkan semalam suntuk.

Bagi suku Dawan, menari dengan membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan adalah simbol persatuan dan kesatuan antara tiga subsu-ku Davvan, yakni Amanatun, Amanuban, dan Mollo.

Sampai sekarang tarian ini sudah mulai ditinggalkan, diganti dengan tarian dansa-dansi dengan iringan musik rekaman pop daerah.

Bonet, adalah salah contoh saja dari kekayaan kebudayaan Timor Tengah Selatan (TTS) yang ada dan hidup di hati masyarakat, bukan hadir di atas bebatuan cadas. Masih ada aneka percikan keseniaan dan kebudayaan lainnya. Dari fakta ini, maka para pakar kebudayaan selalu mendefinisikan bahwa kebudayaan adalah sebuah kata kerja, bukan kata benda semata-mata. Sebagai kata kerja, ia sedang berproses, mencipta (kreasi) terus menerus, menghidupkan, mendenyutkan nadi, melantunkan ekspresi, berotasi dari sebuah ujung komunikasi ke ruang komunikasi yang lain dan sebagainya.

Maka manusia sesungguhnya lahir dari selimut kebudayaan. Saat derai tangisan pertama disahut manja sang ibu yang sedang tergolek lemah di sebuah ruang persalinan rumah sakit, saat itu pula komunikasi sudah berlangsung. Komunikasi tanpa kata, tanpa bahasa. Sebuah ungkapan komunikasi hati, komunikasi cinta.

Dari gambaran di atas, kreasi manusia dalam menciptakan kebudayaan adalah untuk mengungkapkan rasa cintanya, hasrat bathinnya, baik kepada manusia, kepada alam, dan yang terutama kepada Tuhan Pencipta semesta alam. Maka Bonet kesenian lokal yang timbul karena ada kekuatan saling menopang dan mempedulikan.

Dengan demikian, dari pelbagai corak yang ada, kebudayaan dimana pun juga di wilayah Nusantara ini hadir untuk memberi topangan pada kerucut atau piramida kebudayaan nasional dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu jua). Itulah kekayaan, aset, yang tidak bisa dibeli dengan emas atau apapun juga, selain daripada menjaga agar tidak punah. Sebab, kepunahan sebuah kebudayaan (habit) dan kesenian (art) merupakan kecelakaan bagi peradaban itu sendiri.

Peristiwa keajaiban alam seringkali membawa “pesan” yang secara misteri dapat dihayati sebagai ungkapan dan sapaan ilahi (supranatural) bagi manusia yang menerimanya. Alam Timor Tengah Selatan yang gersang dan kering kerontang bisa saja membahasakan pesan-pesan tertentu agar manusia dan alam hidup menyatu dan bersatu padu di bumi nusantara ini.

Lihatlah pelbagai isyarat alam di sekitar kita. Misalnya, ketika musim hujan sudah diambang pintu, ada sekawanan burung yang terbang rendah dri satu kampung ke kampung lainnya seakan menyuarakan kabar kepada petani untuk segera bergegas menyiangi ladangnya yang masih berantakan. Saat Guntur sudah terdengar sayup-sayup di awal bulan Desember, saat itu pula sekelompok burung lainnya terbang dari dahan ke dahan memperdengarkan koor suaranya seakan memuji kebesaran Tuhan. Betapa manusia, alam dan binatang harus hidup dalam bingkai keharmonisan.

Demikian pun saat musim hujan turun dengan lebatnya, ada sekawanan besar kodok yang berada di danau atau dalam kubangan di rumah sekitar kita seakan tertidur lelap, tanpa suara. Tapi ketika hujan berangsur reda, suara kodok bersahut-sahutan, suara “panglima” kodok seakan lebih merdu untuk menuntun paduan suara kokok-kodok lainnya. Betapa indah dan merdu suara-suara itu seakan ada dirigen yang memulainya dan menghentikannya serentak.


Tidak ada yang tahu, apakah suara kodok itu sedang memuji Tuhan, sedang bergembira ria karena kemarau panjang telah berlalu sehingga “ujian kepunahan” telah dilalui, atau menari-nari karena buruan mangsa sudah di depan mata. Isyarat alam memang misteri bagi manusia dan karena itu terkadang sulit mencernanya. Yang pasti, suara alam, suara kodok, dapat menjadi inspirasi bagi manusia untuk sebuah aktivitas kebudayaan. Sebuah gunung api yang meletus, misalnya, dapat dijadikan lagu sentimentalia oleh seorang penggubah lagu karena ia memiliki karunia untuk melihat dan meresapi begitu banyak korban jiwa.


Demikian pula peristiwa suara kodok yang terjadi berulang kali, menimbulkan inspirasi pada orang-orang tertentu (anonim) untuk menirukan suara kodok itu. Nah, di sinilah secara historis awal mula timbulnya tarian Bonet. Sambil bergandengan tangan, mereka menyanyi sambil melangkah mengelilingi danau atau kubangan itu. Setiap malam aktivitas itu dilakukan, tanpa jenuh. Mereka menirukan nyanyian kodok-kodok itu, hingga menjadi suatu kebiasaan yang dianggap sebagai hiburan pelepas lelah di malam hari.


Mereka membentuk lingkaran dan bergandengan tangan, kemudian gerakan-gerakan kaki yang menari secara seragam, bergeser ke kanan laksana bundaran yang berputar mengitari pusatnya. Sementara irama lagu yang diperdengarkan para penari mengikuti derap kaki dalam tarian yang sementara dihayatinya itu. Bait-bait pantun yang diungkapkan pemantun selaku dalang kemudian dinyanyikan bersama-sama. Irama lagu yang dinyanyikan pun singkat dan statis. Sementara pantun-pantun yang diungkapkan oleh para dalang-nya pun bersifat nasihat, jenaka, ejekan, teka-teki. Ungkapan pantun biasanya disesuaikan dengan maksud diadakannya acara yang penuh kegembiraan itu.


Itulah tarian Bonet. Sebuah tarian tradisional masyarakat Timor Tengah Selatan yang paling tua usianya. Atraksi tarian yang dilakukan menirukan suara kodok. Hentakan suara kodok, ritme yang ditata, tarikan napas yang diperdengarkan adalah sehaluan dengan suara kodok itu. Tentu saja bedanya, kodok tidak berbahasa dan berpantun seperti manusia yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam, dengan sesamanya manusia dan dengan Tuhan Sang Pencipta melalui syair-syair pantun tersebut.

Tarian Bonet dapat diikuti semua orang, baik laki-laki dan perempuan, tua dan muda, tanpa membedakan status sosial. Untuk melakukan tarian Bonet, para penari bergandengan tangan, kecuali di wilayah Amanatun, melipat tangan ke dada dan siku saling bertumpuan. Bentuk tarian yang melingkar mempunyai makna tersendiri. Bentuk tarian yang melingkar mempunyai makna tersendiri. Bentuk bundaran memiliki makna bahwa sesuatu yang bulat itu mempunyai kesatuan dan keutuhan. Di dalam kesatuan dan keutuhan, para penari memiliki kesatuan berpikir, berkata dan berbuat. Segala keberhasilan dan kemenangan yang dicapai di dalam perjuangan merupakan bukti adanya kebulatan hati, kebulatan berpikir, seia-sekata dan keseragaman dalam bertindak dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada secara bersama-sama.

Bonet juga merupakan wadah pancaran pujaan bagi yang diagungkan, yang senantiasa memberi terang dan tuntunan di dalam perjuangan hidup. Para penari yang bergandengan tangan secara ketat juga mengandung makna pula bahwa di dalam lingkaran kehidupan terdapat rasa cinta kasih, hidup dalam kegotong-royongan, saling menolong dalam suka dan duka. Apabila tidak bergandengan tangan, maka masing-masing akan berdiri sendiri, tidak bersatu, arti kemanusiaan akan hilang, tidak bertahan dalam menghadapi tantangan.
Di sini pandangan terhadap sesama adalah sama dan sederajat, bahkan dalam penghayatan lebih dalam, “saya tidak akan hidup dan berguna tanpa engkau dan sebalikanya”. Ini merupakan filosofi kehidupan sebuah masyarakat yang mungkin dapat digali lebih dalam secara ilmiah oleh para pakar kebudayaan.

Antara tarian, pantun dan lagu merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan mendukung, sehingga tarian Bonet menjadi hidup dan bersemangat. Betapa indahnya mendengar alunan syair-syair pantun yang dilansir secara bergantian dan bersahut-sahutan. Di sini ada unsur kepatuhan, ketelatenan, kesediaan mendengar dan mengapresiasi, kemampuan menganalisa dan menebak isi pantun, disiplin menyanyi dan menjaga barisan, dsbnya. Maka menarik untuk diungkapkan di sini, sebuah gambaran umum sifat/tingkah laku masyarakat Timor Tengah Selatan, bahwa dilihat dai aspek sosial budaya, penduduk masih terikat dalam struktur genelogis yang berpengaruh terhadap sistem kemasyarakatan. Adapun ciri-cirinya adalah: taat, setia, dan panutan.

Kekompakan kelompok tradisionalnya sangat kuat, baik terhadap adat kebiasaan maupun terhadap agama. Kesetiaan terhadap kelompok serta ketaatan dan kepatuhan terhadap pemimpinnya sangat menonjol. Betapapun sederhananya, kelompok masyarakat saling berhubungan, saling memberi dan menerima. Walaupun lambat, namun kelompok-kelompok tetap hidup dan berkembang dengan keinginan untuk maju dan memerlukan tuntunan. Juga karakter lainnya adalah tertutup dalam pengertian bukan terisolir baik tempat maupun pola pikir, tapi dalam konteks bahwa kelompok itu tidak suka mengungkapkan perasaannyakepada siapa saja yang tidak atau belum dipercayainya.

Apa relevansi karakter dasar ini dengan Bonet? Keinginan kelompok untuk saling berhubungan, saling memberi dan menerima, itulah percikan dari komunikasi budaya “mencinta” yang hidup dalam nuansa theater bertutur itu. Lihatlah bagaimana mereka saling berbalas pantun, saling memahami dan mengerti satu dengan lain. Juga lihatlah bagaimana perasaan senasib sepenanggungan ketika menghadapi pelbagai rintangan saat mengapresiasi isi pantun, menganalisa dan membalasnya.

Juga bagaimana mereka saling menopang, merancang lingkaran bersama untuk memulai gerakan tarian. Ibarat sapu lidi yang hanya berfungsi membersihkan lantai jika diikat dalam satu kesatuan, demikian pun mereka seperti merasa tidak ada artinya jika harus berjuang sebatang lidi tanpa kesatuan “lidi-lidi” lainnya.

Demikian dalam tarian ini, ada unsur kebersamaan, kegotong-royongan, saling menghargai dan saling memberi dan menerima, ibarat ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Tidak disangka bahwa dalam konteks tersebut, sadar ataupun tidak, mereka telah masuk dalam bingkai ajaran agama yang bermakna universal, yakni cinta kasih.

Di dalamnya ada pengejawantahan dari hakekat kehidupan yang empaty, yakni ikut menangis renyah dikala teman susah dan ikut derai senang dikala teman bahagia. Itulah puncak tertinggi penghayatan tarian Bonet ini, yang mudah-mudahan tetap lestari abadi. Karena di sana ada cinta, dan cinta itu selalu abadi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Tebe - NTT


Tarian Tebe adalah salah satu tarian dari Belu-NTT, tarian ini di penuhi hentakan dan nyayian

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Bidu - NTT

Tarian Bidu merupakan tarian peninggalan nenek moyang Belu yang pada mulanya digunakan sebagai media perkenalan bagi pemuda dan pemudi. Tarian ini dilaksanakan atas rencana pemuda-pemudi atas persetujuan orang tua masing-masing. Sebelumnya pihak pemuda merencanaan dan membuat perjanjian bersama dalam bahasa adat disebut hameno bidu.

Perjanjian ini kemudian ditepati dan mereka pun berduyun-duyun menuju lokasi yang telah ditentukan, yang ditonton oleh masyarakat sekitar. Para penari Bidu yang terdiri dari pemuda dan pemudi ini pun segera masuk arena untuk menari. Apabila sang pemuda telah menemukan gadis idamannya, maka dalam menari si pemuda mengelilingi si gadis idamannya. Sang gadis pun tahu kalau si pemuda sudah menaruh hati, maka si gadis pura-pura jual mahal. Pada tahap berikutnya sang pemuda sambil menari melambai-lambaikan sapu tangannya ke wajah si gadis dan berusaha meletakkan sapu tangannya ke bahu si gadis.

jika si gadis itu menyetujuinya, maka sapu tangan itu akan diterimanya dengan baik. Selanjutnya menjelang tarian usai diadakan janji untuk hanimak (suatu proses saling mengenal yang sangat etis, romantis dan berbobot, karena masih dalam pengendalian).

Apabila dialog perjanjian itu belum selesai, akan dilaksanakan setelah tarian usai. Dialog-dialog itu dengan bahasa bersyair, dan bisanya pemudalah yang memulainya.

Setelah proses perjanjian, si pemuda lalu pulang dan mencari teman yang dapat dipercaya untuk kemudian diutus sebagai jembatan untuk menghubungi orang tua gadis dengan kata-kata pemberitahuan bahwa si pemuda mau bertandang ke rumah si gadis.

Bila orang tua gadis setuju, maka si pemuda mulai berdandan dan segera pergi ke rumah si gadis dengan membawa sirih pinang. Kemudian terjadi dialog antara pemuda dan si gadis.

Setelah proses hanimak atau bertandang, pulanglah si pemuda dengan seizin gadis dan orang tuanya. Selanjutnya apabila ada kecocokan, maka hanimak berlanjt terus pada malam-malam berikutnya, dan pada gilirannya terjadilah proses binor yang berarti saling menyimpan barang (tempat sirih, kain selimut, pakaian, foto-foto dan lainnya).

Setelah terjadinya binor, maka orang tua kedua belah pihak bermusyawarah untuk menentukan waktu meminang atau memasukan sirih pinang. Pada saat meminang, pihak laki-laki membawa sirih pinang, sopi (tuak) satu botol, dan ayam satu ekor serta satu ringgit perak dan kain putih kurang lebih satu meter. Barang-barang tersebut dinamakan Mama Lulik (sirih pinang pamali). Kemudian menyusul lagi tahap adat yang disebut Mama Tebes. Dalam acara ini dibahas tentang jadwal perkawinan di gereja.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Topeng - Cirebon

Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Indramayu dan Jatibarang. Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan. Disebut tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng kelana kencana wungu merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana wungu yang dikejar-kejar oleh prabu Minakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun anggun. Minakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini karya Nugraha Soeradiredja.

Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng.

Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya.

Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, Indramayu. Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, namun ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.

Tari topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.

Seperti yang saya sebutkan diatas, masing-masing warna topeng yang dikenakan mewakili karakter tokoh yang dimainkan, sebut saja misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (tempramental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari sendiri adalah biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.

Jika anda berminat untuk menyaksikan tarian yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe ini, silahkan datang saja ke Cirebon. Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Likurai - NTT

Tarian Tradisional LIKURAI

Ketika Kita Membuka Lembaran Sejarah Yang Tercatat Tentang Sebuah Kaum Atau Wilayah, Tidak Jarang Yang Mendominasinya Adalah Warna Peperangan. Perang Sering Sekali Menjadi Sebuah Jalan Keluar Penyelesaian Dari Sebuah Persoalan Atau Keinginan. Tidak Jarang Kita Mendapatkan Catatan Yang Menceriterakan Riwayat Sebuah Perang Yang Disebabkan Gagalnya Sebuah Proses Perkawinan Atau Hanya Sekedar Upaya Perluasan Wilayah.

Di Kabupaten Belu, Atambua, Hal Ini Juga Kerap Terjadi Dimasa Lampau. Dan Hal Ini Ternyata Meninggalkan Warisan Berupa Sebuah Tarian Tradisional, Yaitu Tarian LIKURAI. Tarian Likurai Ini, Adalah Sebuah Tarian Tradisional Masyarakat Kabupaten Belu Yang Ditarikan Oleh Para Gadis Atau Kaum Wanitanya Dan Para Ibu Ketika Menyambut Kedatangan Para Pahlawan Mereka Yang Pulang Dari Peperangan.

Tarian Likurai Ini, Sering Juga Dipakai Sebagai Sebuah Tarian Adat Yang Ditarikan Ketika Menyambut Kedatangan Para Tamu Terhormat Yang Datang Atau Berkunjung Didalam Wilayah Masyarakat Setempat. Menggambarkan Sebuah Penghormatan Yang Diberikan Dalam Menyambut Kedatangan Para Tamu Tadi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Jaipongan - Sunda

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Tari Jaipong
Kesenian Tradisional Jawa Barat

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan. Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.

MENYEBUT Jaipongan sesungguhnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sejarah
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).


Perkembangan Tari Jaipong
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).


Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan dan tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Lilin - Sumbar


Tarian Lilin pada asasnya merupakan sebuah tarian yang dipersembahkan oleh sekumpulan penari dengan diiringi sekumpulan pemusik. Para penari ini akan membawa lilin yang dinyalakan pada piring yang dipegang oleh tangan mereka. Penari akan menarikan tarian secara berkelompok dengan memutar piring yang berisi lilin yang menyala secara berhati-hati agar piring tersebut sentiasa mendatar, dan lilin tidak mati.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Randai - Sumbar

Tari Randai dalam sejarah Minangkabau memiliki sejarah yang lumayan panjang. Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika mesyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut. Randai dalam masyarakat Minangkabau adalah suatu kesenian yang dimainkan oleh beberapa orang dalam artian berkelompok atau beregu, dimana dalam randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Randai ini bertujuan untuk menghibur masyarakat biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri.

Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlansungnya acara tersebut.

Sekarang randai ini merupakan sesuatu yang asing bagi pemuda-pemudi Minangkabau, hal ini dikarenakan bergesernya orientasi kesenian atau kegemaran dari generasi tersebut. Randai terdapat di Pasisie dan daerah Darek (daratan).

Pada awalnya Randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. namun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara, seperti kelompok Dardanela.Jadi, Randai pada awalnya adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, dan kurang tepat jika Randai disebut sebagai Teater tradisi Minangkabau walaupun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Indang - Sumbar


Tari Indang (badindin) adalah kesenian tradisional Minangkabau yang berasal dari daerah Pariaman yang merupakan bentuk sastra lisan yang disampaikan secara berkelompok sambil berdendang dan memainkan rebana kecil.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Zapin - Melayu

Tarian Zapin merupakan salah satu dari beberapa jenis tarian Melayu yang masih eksis sampai sekarang. Tarian ini diinspirasikan oleh keturunan Arab yang berasal dari Yaman. Menurut sejarah, tarian Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan di kalangan raja-raja di istana setelah dibawa dari Yaman oleh para pedagang-pedagang di awal abad ke-16.

Masyarakat Melayu termasuk seniman dan budayawannya memiliki daya kreasi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu maupun dalam hal berpantun. Seniman dan budayawannya mampu membuat seni tradisinya, tidak mandek tapi penuh dinamika yang selalu dapat diterima dalam setiap keadaan. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Payung - Sumbar

Tari Payung adalah salah satu tari klasik dari Minang, Sumatera Barat . Tarian yang menggambarkan kasih sayang seorang kekasih.
Tarian ini merupakan tari pergaulan muda-mudi yang dilambangkan dengan payung sebagai pelindung. Makanya, tarian ini dibawakan secara berpasangan. Selain menggunakan payung sebagai alat bantu yang dimainkan oleh penari pria, penari wanita juga menggunakan selendang sebagai pelengkapnya. Musiknya cukup variatif, mulai dari agak pelan, lalu agak cepat dan cepat, sangat dinamis. Tari ini biasa dibawakan untuk memeriahkan acara pesta, pameran, dan lain sebagainya. Tari Payung adalah salah satu tari klasik dari Minang, Sumatera Barat .

Tarian yang menggambarkan kasih sayang seorang kekasih. Tarian ini merupakan tari pergaulan muda-mudi yang dilambangkan dengan payung sebagai pelindung. Makanya, tarian ini dibawakan secara berpasangan.

Selain menggunakan payung sebagai alat bantu yang dimainkan oleh penari pria, penari wanita juga menggunakan selendang sebagai pelengkapnya. Musiknya cukup variatif, mulai dari agak pelan, lalu agak cepat dan cepat, sangat dinamis. Tari ini biasa dibawakan untuk memeriahkan acara pesta, pameran, dan lain sebagainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tari Seudati - Aceh

Tari Seudati adalah nama tarian yang berasal dari provinsi Aceh. Seudati berasal dari kata Syahadat, yang berarti saksi/bersaksi/pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Tarian ini juga termasuk kategori Tribal War Dance atau Tari Perang, yang mana syairnya selalu membangkitkan semangat pemuda Aceh untuk bangkit dan melawan penjajahan. Oleh sebab itu tarian ini sempat dilarang pada zaman penjajahan Belanda, tetapi sekarang tarian ini diperbolehkan kembali dan menjadi Kesenian Nasional Indonesia.

Sekilas tentang tari Seudati
Kata seudati berasal dari bahasa Arab syahadati atau syahadatain , yang berarti kesaksian atau pengakuan. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Seudati mulai dikembangkan sejak agama Islam masuk ke Aceh. Penganjur Islam memanfaatkan tarian ini sebagai media dakwah untuk mengembangkan ajaran agama Islam. Tarian ini cukup berkembang di Aceh Utara, Pidie dan Aceh Timur. Tarian ini dibawakan dengan mengisahkan pelbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu bagaimana memecahkan suatu persoalan secara bersama. Pada mulanya tarian seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan, diperagakan untuk mengawali permainan sabung ayam, atau diperagakan untuk bersuka ria ketika musim panen tiba pada malam bulan purnama.

Dalam ratoh, dapat diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasehat, sampai pada kisah-kisah yang membangkitkan semangat. Ulama yang mengembangkan agama Islam di Aceh umumnya berasal dari negeri Arab. Karena itu, istilah-istilah yang dipakai dalam seudati umumnya berasal dari bahasa Arab. Diantaranya istilah Syeh yang berarti pemimpin, Saman yang berarti delapan, dan Syair yang berarti nyayian.

Tari Seudati sekarang sudah berkembang ke seluruh daerah Aceh dan digemari oleh masyarakat. Selain dimanfaatkan sebagai media dakwah, Seudati juga menjadi pertunjukan hiburan untuk rakyat.

ASAL USUL TARI SEUDATI
Tari Seudati pada mulanya tumbuh di desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Kemudian berkembang ke desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Tari Seudati berasal dari kabupaten Pidie. Seudati termasuk salah satu tari tradisional Aceh yang dilestarikan dan kini menjadi kesenian pembinaan hingga ke tingkat Sekolah Dasar.

Seudati ditarikan oleh delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu orang pemimpin yang disebut syeikh , satu orang pembantu syeikh, dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeetwie, satu orang pembantu di belakang yang disebut apeet bak , dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.

Jenis tarian ini tidak menggunakan alat musik, tetapi hanya membawakan beberapa gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah dan petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan. Bebarapa gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah dengan penuh semangat. Namun, ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan perut mengesankan kesombongan sekaligus kesatria.

Busana tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang berwarna merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus berbusana seragam. Bagian-bagian terpenting dalam tarian seudati terdiri dari likok (gaya; tarian), saman (melodi), irama kelincahan, serta kisah yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama.

Pada umumnya, tarian ini diperagakan di atas pentas dan dibagi menjadi beberapa babak, antara lain: Babak pertama, diawali dengan saleum (salam) perkenalan yang ucapkan oleh aneuk syahi saja, yaitu:

Assalamualaikum Lon tamong lam seung,

Lon jak bri saleum keu bang syekh teuku….

Fungsi aneuk syahi untuk mengiringi seluruh rangkaian tari. Salam pertama ini dibalas oleh Syeikh dengan langgam (nada) yang berbeda:

Kru seumangat lon tamong lam seung,

lon jak bri saleum ke jamee teuku….

Syair di atas diulangi oleh kedua apeetwie dan apeet bak. Pada babak perkenalan ini, delapan penari hanya melenggokkan tubuhnya dalam gerakan gemulai, tepuk dada serta jentikan delapan jari yang mengikuti gerak irama lagu. Gerakan rancak baru terlihat ketika memasuki babak selanjutnya. Bila pementasan bersifat perntandingan, maka setelah kelompok pertama ini menyelesaikan babak pertama, akan dilanjutkan oleh kelompok kedua dengan teknik yang berbeda pula.

Biasanya, kelompok pertama akan turun dari pentas. Babak kedua, dimulai dengan bak saman , yaitu seluruh penari utama berdiri dengan membuat lingkaran di tengah-tengah pentas guna mencocokkan suara dan menentukan likok apa saja yang akan dimainkan. Syeikh berada di tengah-tengah lingkaran tersebut. Bentuk lingkaran ini menyimbolkan bahwa masyarakat Aceh selalu muepakat (bermusyawarah) dalam mengambil segala keputusan. Muepakat itu, jika dikaitkan dengan konteks tarian ini, adalah bermusyawarah untuk menentukan saman atau likok yang akan dimainkan.

Di dalam likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan aneuk syahi . Lantunan likok tersebut diawali dengan:

Iiiiii la lah alah ya ilalah…. (secara lambat dan cepat)

Seluruh penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan secara cepat atau lambat tergantung dengan lantunan yang dinyanyikan oleh aneuk syahi tersebut. Fase lain adalah fase saman . Dalam fase ini beragam syair dan pantun saling disampaikan dan terdengar bersahutan antara aneuk syahi dan syeikh yang diikuti oleh semua penari. Ketika syeikh melontarkan ucapan:

walahuet seuneut apet ee kataheee, hai syam,

maka anek syahi akan menimpali dengan jawaban:

lom ka dicong bak iboih, anuek puyeh ngon cicem subang.

Untuk menghilangkan rasa jenuh para penonton, setiap babak ditutup dengan formasi lanie, yaitu memperbaiki formasi yang sebelumnya sudah tidak beraturan.

Artikel ini dikutip dari berbagai sumber yang terkait. Termasuk wawancara langung dengan salah seorang penari seudati terkemuka di Aceh, Syeh La Geunta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tarian Katreji - Maluku

Maluku adalah daerah yang memiliki sejarah alkulturisasi yang panjang. Oleh karena itu, tak mengherankan apabila tarian daerah Maluku terpengaruh oleh unsur budaya yang berasal dari luar Maluku. Seperti tari Katreji dan Polonaise misalnya.

Tarian katreji merupakan percampuran budaya Portugis dan Belanda dengan budaya Maluku, karena menggunakan bahasa Portugis dan Belanda pada saat penarinya memberikan aba-aba pada setiap gerak yang dilakukan.

Sedangkan tarian polonaise adalah tarian lambat berasal dari Polandia. Polonaise merupakan kata dalam bahasa Perancis yang berarti "Orang Polandia". Tari polonaise kemungkinan dibawa ke Maluku oleh para pedagang Eropa. Para penarinya saling berpasangan sambil membentuk formasi lingkaran dan biasanya ditampilkan pada saat pesta pernikahan.
Selain Katreji dan Polonaise ada pula tari lainnya yang tak kalah menarik seperti tari cakalele, saureka-reka, tari lenso dan tari bambu gila.

Tarian Adat Maluku
Tari cakalele adalah tarian yang menggambarkan suasana peperangan. Oleh karenanya, para penari biasanya selalu pria dewasa. Mereka melakukan gerakan tarian sambil memegang parang dan salawaku atau Perisai. Bila tari cakalele diperagakan oleh para pria, maka kebalikannya dengan tari Saureka-Reka.
Tarian ini dilakukan oleh para wanita muda yang biasanya masih gadis. Alat yang digunakan adalah empat batang pelepah pohon sagu yang saling bersilangan. Penarinya harus berlompatan dengan lincah untuk menghindari jepitan batang sagu yang digerak-gerakkan oleh penari lainnya, sambil diiringi irama musik ritmis.
Ada pula tarian khas muda-mudi, yaitu tari lenso atau tari selendang. Biasanya tarian ini di bawakan pada saat pesta, seperti pesta pernikahan, panen tahun baru dan perayaan lainnya. Tarian ini dibawakan secara massal, baik pria maupun wanita. Hal tersebut dimanfaatkan untuk mencari pasangan (jodoh).

Bambu Gila, Tarian Unik dari Ternate
Di antara tarian-tarian Maluku, ada satu yang paling unik dan beraroma mistis yaitu tari bambu gila. Tarian ini berasal dari Ternate, Maluku Utara, tepatnya di daerah hutan bambu di kaki gunung Gamalama.
Awal tarian ini digunakan untuk memindahkan kapal kayu yang telah selesai dikerjakan di atas gunung ke pantai. Selain itu, juga dipakai untuk memindahkan kapal yang telah kandas di laut. Bahkan oleh para raja-raja, tari bambu gila ini sering digunakan untuk melawan musuh yang menyerang. Namun seiring waktu berjalan, tarian ini hanya merupakan sekadar hiburan di saat masyarakat mengadakan pesta.

Pada tarian ini, batang bambu yang dipilih haruslah berukuran sekitar 10-15 meter. Sebelum tarian bambu gila dimulai, pawang akan membakar kemenyan atau dupa sambil membacakan doa agar diberikan keselamatan hingga akhir acara. Setelah itu bambu akan terguncang-guncang. Mulanya perlahan, namun lama-lama akan semakin kencang.

Enam orang pria bertubuh besar yang memegangi bambu ini akan terbawa beputar mengelilingi lapangan, mengikuti arah gerakan si bambu. Bambu tersebut seolah-olah memiliki berat berton-ton sehingga enam pria yang membawanya tak kuasa menahannya.
Setelah lebih kurang tiga puluh menit, semua pria tadi akan kelelahan sampai bersimbah keringat. Di akhir tarian, pawang akan membakar selembar kertas lalu dimakan. Setelah, itu barulah sang bambu kan “jinak” dan kembali seperti semula.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS